Tugas Landasan Pendidikan - PBSI - Universitas Muslim Nusantara.

Nama      : Rasidah Aini
Npm        : 201214020
Kelas       : 1A
Prodi       : Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas : KIP UNIVERSITAS MUSLIM NUSANTARA AL-WASHLIYAH




1 . Jelaskan dan berikan contoh masing-masing dari Landasan pendidikan Indonesia berdasarkan sumsi !


• Landasan Sosiolagis
Pengertian Landasan Sosiologis

Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:

- Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
- Hubungan kemanusiaan.
- Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
- Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
- Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional

Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuh kembangkan Ke-Bhineka Tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah. Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat:

~ Kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat
~ Kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
~ Negara melindungi warga negaranya, dan
~ Selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.

• Landasan Hukum / Legalistik
Landasan hukum pendidikan adalah dasar atau fondasi perundang undangan yang menjadi pijakan dan pegangan dalam pelaksanaan pendidikan di suatu negara

• Landasan Psikologis
Dalam pendidikan secara etimologis istilah psikologis berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata psyche berarti “jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang kejiawaan.

• Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakekat pendidikan, landasan yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok dalam pendidikan berdasarkan filsafat. Ada berbagai macam filsafat pendidikan yaitu:

Esensialisme

Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik atau bahan ajar esensial.

Menurut Mazhab ensesialisme, yang termasuk the liberalarts, yaitu:

1. Penguasaan bahasa termasuk rerorika
2. Gramatika
3. Kesusateraan
4. Filsafat
5. Ilmu kealaman
6. Matematika
7. Sejarah
8. Seni keindahan (fine arts) 
9. Perenialisme

Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal. Prinsip pendidikan antara lain:

1. Konsep pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah.
2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan mahluk manusia yang unik, yaitu kemampuan berpikir.
3. Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subjects)
6. Pragmatisme dan Progresifme

Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional. Progresivisme yaitu perubahan untuk maju. Manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran. Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut:

1. Anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar
2. Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
3. Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
4. Sekolah progresif harus merupakan sebuah laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekperimentasi.
5. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

- Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia. 

• Landasan kultural
Landasan kultural adalah kebudayaan dan pendidikan yang mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal.

• Landasan Ilmiah dan Teknologis
Iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran, dengan kata lain, pendidikan sangat berperan penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.

- Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kedudukan masing-masing yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi. Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara pengindraan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi, dan wahyu.

- Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Bukti historis menunjukkan bahwa usaha mula bidang keilmuan yang tercatat adalah oleh bangsa Mesir purba, dimana banjir tahunan sungai Nil menyebabkan berkembangnya system almanac, geometri dan kegiatan survey.


2. Mengapa pendidikan Indonesia menggunakan semboyan Tut Wuri Handayani, dan masih memegang teguh sampai hingga hari ini!


Tut Wuri Handayani, adalah semboyan yang menempel di dada sebelah kiri para siswa atau pelajar sejak bersekolah dasar sampai sekolah menengah atas, yang menjadi suatu semboyan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pencetus semboyan itu adalah Ki Hajar Dewantara.
Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soejaningrat, pada 2 Mei 1889 dan mengganti namanya pada tahun 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara yang dikenal sampai sekarang. Dengan alasan untuk lebih dekat kepada rakyat, Soewardi menghilangkan nama ningratnya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah seorang aktivis pendidikan dan kemerdekaan di Indonesia, bersama dua orang temannya yaitu Ernest Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo atau yang dikenal dengan sebutan tiga serangkai.
Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan cara intelektual seperti menulis, dalam usahanya melawan penjajahan Belanda, Ia pernah menulis Als Ik Een Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) tulisan ini ditulis dengan tujuan untuk mengkritik pemerintah kolonial Belanda yang pada saat itu meminta warga termasuk pribumi memberikan sumbangan untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis. Sebuah ketidakadilan bagi pribumi kala itu.
Hal tersebut membuat Ki Hajar Dewantara beserta dua temannya harus diasingkan ke pulau Bangka. Setelah kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran pertama di Indonesia pada saat presiden Soekarno menjabat.
Tut Wuri Handayani, semboyan yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara yang berasal dari bahasa jawa adalah semboyan yang dipilih dan dikenal di dunia pendidikan di Indonesia. Sebenarnya Terdapat tiga semboyan dalam bahasa jawa yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. 
Masing-masing memiliki arti, artinya secara berurutan ialah di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. Semboyan-semboyan tersebut dibuat untuk menjadi dasar dalam pendidikan di Indonesia dalam setiap semboyannya terkandung makna yang mendalam seperti pada Tut Wuri Handayani, yang artinya dibelakang memberi dorongan yang berarti walaupun kita berada dibelakang berikanlah selalu dorongan agar tetap dapat terus maju kedepan. Ing Ngarso Sun Tuladha, di depan memberi contoh, yang artinya setiap yang ada di depan harus dapat menjadi contoh bagi siapapun dan jadi teladan. Ing Madya Mangun Karsa, di tengah memberi semangat, yang artinya di posisi ini harus dapat memberikan semangat kepada yang di depan maupun dibelakang.
Inilah yang harus ada di dalam jiwa pendidikan di Indonesia, ketika mendidik anak bangsa jadikanlah semboyan ini sebagai acuan dalam mendidik agar cita-cita Ki Hajar Dewantara tetap tertanam dan berkembang walaupun beliau sudah tiada sejak 61 tahun yang lalu. Perjuangan Ki Hajar Dewantara tetap di kenang setiap tanggal 2 mei, tanggal kelahirannya tersebut dijadikan hari pendidikan nasional oleh pemerintah dan setiap tanggal 2 Mei diperingati dengan HARDIKNAS atau Hari Pendidikan Nasional. Dan begitupun dengan semangat dan semboyan nya Tut Wuri Handayani yang tetap melekat di dada sebelah kiri para pelajar Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 

Inilah yang harus ada di dalam jiwa pendidikan di Indonesia, ketika mendidik anak bangsa jadikanlah semboyan ini sebagai acuan dalam mendidik agar cita-cita Ki Hajar Dewantara tetap tertanam dan berkembang walaupun beliau sudah tiada sejak 61 tahun yang lalu

Komentar