Rasidah Aini
201214020
Pend. Bahasa Indonesia
Matkul : Landasan Pendidikan
Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Bangsa Jepang bercita-cita besar menjadi pemimpin Asia Timur Raya. Perkembangan ekonomi dan industri Jepang memberi gambaran bahwa tampaknya perluasan wilayah itu mutlak diperlukan sehingga memperluas wilayah jajahan dan kejayaannya, bahkan mencapai masa keemasan setelah menguasai Belanda di Indonesia, dan penguasaannya itu, meliputi berbagai bidang termasuk pada sektor pendidikan di Indonesia. Sejarah awal pendidikan di Indonesia, berkaitan erat dengan sejarah awal datang dan masuknya Islam di negara ini. Pendidikan di Indonesia dalam perspektif sejarahnya, memiliki
keunikan tersendiri, dan berperan penting dalam memajukan kebudayaan Islam, terutama di masa kerajaan, masa penjajahan Belanda dan masa Jepang. Khusus di masa Jepang, bertepatan dengan terjadinya Perang Dunia II antara tahun 1938-1945 di Indonesia, dan pertama kali Jepang mendarat di Indonesia, tepatnya di Jawa pada tanggal 1 Maret 1942. Bandung sebagai pusat
pertahanan Belanda dibombandir Jepang dan Belanda menyerah tanpa sayarat.2 Sebagai penjajah, Jepang jauh lebih kejam dari pada belanda. Jepang merampas semua harta milik rakyat untuk
kepentingan perang. Pada masa Jepang, pendidikan dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan Jepang yang hendak menghapus pelajaran agama Islam dan diganti dengan pelajaran agama Shinto. Oleh karena itu bahasa dan aksara Arab dikurangi prekuensinya, serta pendidikan pada umumnya mendapat penekanan.3 Jepang memahami bahwa salah satu jalan untuk me-Nippong-kan bangsa Indonesia, adalah melalui jalur pendidikan, sehingga Jepang merubah kurikulum pendidikan.
Selain kurikulum pendidikan, berbagai upaya dan cara ditempuh Jepang pada masa itu, termasuk sistem kelembagaan pendidikan, metodologi pengajaran, dan selainnya, yang penting untuk
dikaji lebih lanjut. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan maka pokok
masalah yang dikaji adalah bagaimana pendidikan di Indonesia pada masa Jepang.
A. Pelaksanaan Pendidikan di Indonesia pada Masa Jepang
Jepang menjajah Indonesia setelah mengusir pemerintah Hindia Belanda dalam Perang Dunia ke II. Jepang mulai menguasai Indonesia pada tahun 1942, termasuk menguasai sistem pendidikan Islam. Ketika pasukan Jepang mulai berkuasa di Indonesia, bangsa Jepang memaksakan untuk melakukan tradisinya, yaitu menyanyikan lagu Kimigayo yang merupakan lagu kebangsaan Jepang, demikian pula diharuskan untuk melaksanakan Seikeirei, suatu cara memberi hormat dengan membungkukkan badan ke arah Kaesar Jepang, Tenno Neika yang dipercayai oleh masyarakat Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari. Tradisi seperti ini jelas bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia, yang berimbas pada sisi negatif terhadap
ekesistensi pendidikan di Indonesia. Para ulama dan tokoh pendidikan, seperti Hasyim Asy'ari menentang kebijakan Jepang tersebut. Sebagai akibat perlawanan yang dilakukannya ini, Hasyim
Asy'ari mendapat tekanan dari pemerintah Jepang, bahkan ia pernah ditahan selama enam bulan, karena dituduh menentang pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam hubungannya dengan penahanan K.H. Hasyim Asy’ari ini, Saifuddin Zuhri telah menyatakan sebagai berikut: “KH.
Hasyim Asy’ari, pemimpin pesantren Tebuireng dan Rais Akbar Nahdlatul Ulama ditangkap Jepang. Ia dimasukkan ke dalam penjara di Jombang, lalu dipindahkan ke penjara Mojekerto, dan
akhirnya di penjara Bubutan, Surabaya.
Beberapa kiai dan santri meminta dipenjarakan bersama-sama Kiai Haji Hasyim Asy’ari sebagai tanda setia kawan, sebagai tanda khidmah kepada guru dan pemimpin mereka yang telah berusia sekitar 70 tahun itu.” Demikianlah gambaran perlawanan budaya terhadap kaum penjajah, Jepang yang dilakukan oleh K.H. Hasyim Asy’ari dalam rangka perjuangan untuk merebut kemerdekaan, ia mengalami resiko yang berat, sebab pesantrennya dibakar oleh
Belanda pada tahun 1913 dan dipenjarakan selama 6 bulan pada tahun 1942 di
masa penjajahan Jepang. Selanjutnya sejak awal pemerintahan Jepang, semua organisasi Islam di Indonesia yang tergabung dalam MIAI dibekukan, sehingga organisasi Islam yang menyelengarakan pendidikan, mengalami kesulitan dalam memajukan pendidikan, ini ditandai dengan mundurnya kegiatan pembelajaran di pesantren-, madrasah dan pengajian. Pendidikan pun semakin menjadi terbengkalai dan terabaikan. Namun demikian Madrasah di lingkungan pesantren beruntung, karena terbebas dari pengawasan langsung pemerintah Jepang,
sehingga pendidikan dalam pondok pesantren masih berjalan dengan agak wajar. Hal ini dapat terjadi karena letak pesantren yang terpisah dan terpencil. Di awal kedatangannya, kelihatan
memang bahwa Jepang seakan-akan mendukung sistem pendidikan, hal ini terlihat bahwa :
1. Pondok pesantren yang besar-besar sebagai institusi pendidikan Islam sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar Jepang
2. Sekolah negeri dalam berbagai tingkatannya diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
3. Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH.Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir dan Bung Hatta.
Indikator seperti yang disebutkan di atas, merupakan alasan bahwa Jepang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan di Indonesia, namun setelah pecahnya Perang Dunia II dan kedudukan Jepang terancam oleh Sekutu, keadaan itu berubah secara drastis, tekanan terhadappendidikan menjadi terancam, dan penduduk pribumi ditekan dengan cara
Jepang menjalankan kekerasan untuk pembiayaan perang Asia Timur Raya-nya.
Jepang memberlakukan kerja paksa (ROMUSHA) juga membentuk pertahanan rakyat semesta, seperti Haiho, Peta dan Keiboda, sehingga perhatian terhadap dunia pendidikan semakin menurun.
Kehidupan rakyat semakin tertindas dan menderita. Karenanya lahirlah pemberontakan-pemberontakan, ini berakibat banyaknya kiai sebagai tokoh pendidikan yang di tangkap. Dalam pada itu, umat Islam memanfaatkan kesempatan ini untuk bangkit memberontak melawan
Jepang dalam upaya mereka memajukan pendidikan di Indonesia. Sekolah, madrasah dan pesantren yang telah ada, bahkan dengan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta menjadikan pendidikan zaman Jepang mempunyai kesempatan yang banyak untuk memajukan pendidikan sendiri, sehingga tanpa disadari oleh Jepang bahwa umat Islam sudah cukup mempunyai potensi
untuk maju dalam bidang pendidikan ataupun perlawanan kepada penjajah.
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut: Pertama, Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi
6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda. Kedua, Pendidikan Lanjutan. Terdiri
dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
Ketiga, Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian. (4) Pendidikan Tinggi. Sistem pelaksanaan pendidikan seperti yang disebutkan di atas, berimplikasi pada berkembangnya berbagai jenis dan jenjang pendidikan pada akhir zaman penjajahan Jepang, yang sebenarnya terdapat tanda-tanda kemajuan pendidikan, terutama dari segi pendirian
lembaga pendidikan seperti madrasah dan pondok pesantren di daerah terpencil, pelosok desa.
Dalam pada itu, tenaga pengajar yang dapat menunjang kegiatan pendidikan di masa Jepang, adalah tersebarnya ulama-ulama. Di sisi lain, pemerintah Jepang menyediakan kursus sekolah dan latihan bagi calon-calon guru. Adapun sekolah yang dimaksud bagi calon tenaga
pengajar yaitu :
1. Sekolah Guru (SG) lama belajar 2 tahun yang dinamakan Sjootoo Sihan Gakkoo.
2. Sekolah Guru Menengah (SGM) lamanya 4 tahun yang dinamakan Cutoo Sihan Gakkoo.
3. Sekolah Guru Tinggi (SGT) lamanya 6 tahun yang dinamakan kootoo Sihan
Gakkoo.
Pengadaan sekolah-sekolah seperti itu semakin penting, manakala bersinggungan dengan usaha penanaman ideology Hakko Ichiu (kemakmuran bersama) melalui sekolah-sekolah dimulai
dengan mengadakan latihan guru-guru. Guru-guru dibebani tugas sebagai penyebar ideology baru. Latihan itu dipusatkan di Jakarta. Tiap-tiap kabupaten mengirimkan wakilnya untuk mendapat gemblengan dari pimpinan Jepang. Sekembalinya ke daerahnya masingmasing, guru itu diwajibkan untuk meneruskan ideology baru itu kepada temantemannya.
B. Kurikulum dan Metodologi Pendidikan di Indonesia pada Masa Jepang
1. Kurikulum pendidikan pada masa pemerintahan Jepang berkuasa di Indonesia terjadi beberapa perubahan yang penting, yaitu
Terhapusnya Kurikulum Dualisme Pengajaran. Berbaga jenis lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah kolonial Belanda dihapuskan di masa Jepang. Oleh karena itu, riwayat susunan pengajaran yang dualistik telah berakhir. Dualisme yang dimaksudkan adalah pengajaran barat dan pengajaran bumi putra. Hanya satu jenjang sekolah yang diadakan untuk seluruh lapisan masyarakat ialah sekolah rakyat (SR) yang saat itu lebih popular dengan sebutan kokumun gakkoo Adapun Sekolah Desa masih tetap
ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Berkenaan dengan itulah, maka
jenjang pendidikan pendidikan dan pengajaran di masa Jepang berdasarkan tingkatannya adalah, Sekolah Rakyat enam tahun (termasuk Sekolah Pertama), Sekolah Menengah tiga tahun, dan Sekolah Menengah Tinggi tiga tahun (SMU pada zaman Jepang).
2. Kurikulum Pengajaran Bahasa Indonesia Kurikulum pendidikan di setiap jenjang pendidikan, adalah dimasukkannya pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar materi, yang sebelumnya mengalami penekanan. Pada masa Jepang atau era Nippon ini, cukup penggunaan bahasa Indonesia menjadi signifikan.
3. Bantuan Dana untuk Pembenahan Kurikulum Pendidikan Untuk memperoleh dukungan dari
umat Islam pemerintah Jepang mengeluarkan mengeluarkan kebijakan yang menawarkan bantuan dana bagi sekolah dan madrasah, sehingga sekolah maupun madrasah dengan bebas menyelenggarakan pendidikan sesuai target kurikulum seperti buku-buku pelajaran, Dana yang diberikan, diperun-tukkan untuk pengadaan buku-buku dan literature sebagai sarana utama dalam pembenahan kurikulum pendidikan. Berbeda dengan pemerintah Hindia Belanda, pemerintah Jepang membiarkan kembali dibukanya madrasah-madrasah yang pernah ditutup pada masa sebelumnya, dan ini dilakukan bersinergi dengan pemberian dana pendidikan yang diberikan. Namun dalam kenyataannya, pengawasan pemerintah Jepang sendiri tidak dapat menjangkau madrasah dan pesantren yang sebagian berlokasi di desa-desa terpencil sehingga bantuan yang diberikan terbatas pada sekolah-sekolah atau madrasah tertentu.
Metode klasikal dalam pendidikan di masa Jepang dilaksanakan pada pagi hari di sekolah sesuai jam dan waktu yang ditentukan dan mengarah pada program yang menekankan pencapaian tujuan secara sistematis dan terjadwal. Sedangkan metode pengajian kitab dilaksanakan oleh kiai atau badal kiai secara jama’I dalam kelompok besar santri tanpa
hirarki, yang arah pengajiannya lebih menekankan pada pencapaian membaca dan memahami teks kitab yang menjadi sumber tambahan dari sistem klasikal. Selanjutnya tentang metode pengajaran yang digunakan dalam pendidikan pada masa Jepang, umumnya mengikuti pola
metodologi pengajaran pendidikan seperti metode kisah, metode teladan, metode nasehat, metode pembiasaan, dan selainnya.
Menyoal metode kegiatan belajar mengajar berdasarkan strategi yang digunakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, murid-murid atau peserta didik seringkali diharuskan melakukan kinrohooshi (kerjabakti), seperti membersihkan bengkel-bengkel, asrama, kantor-kantor, dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung kebutuhan militer jepang di medan perang.
Peserta didik diharuskan membuat rabuk kompos atau secara bersama-sama membasmi hama tikus di sawah. Sebagian waktu belajar juga dihabiskan untuk bercocok tanaman jarak dan tanamantanaman lain baik di lingkungan sekolah maupun di pingir-pinggir jalan, sebagai
cara untuk menghasilkan bahan penting yang dibutuhkan bagi kelangsungan peperangan.
Dalam pada itu, ditemukan pula adanya latihan-latihan jasmani yang bersifat militerisme juga dilakukan agar berjalan lancar maka dibentuklah barisanbarisan tiap sekolah, Seinentai yaitu barisan murid Sekolah Rakyat dan Gakuto-tai yaitu barisan murid-murid Sekolah lanjutan. Guna menanamkan semangat keJepangan, maka setiap hari setiap murid harus mengucapkan sumpah pelajar, menghadap ke matahari terbit dan nyanyian serta mengikuti pelajaran bahasa Jepang. Agar siswa terpacu, maka kadang-kadang diadakan perlombaan bahasa dan nyanyian-nyanyian Jepang. Hal ini juga berlaku bagi guru, pegawai dan orang yang sudah dewasa. Berdasarkan situasi ini, maka di satu sisi pelaksanaan pendidikan hampir separuh waktu belajar siswa dihabiskan untuk melakukan kinrohooshi (kerjabakti).
Meskipun demikian, pendidikan Islam tetap berjalan seperti yang disebutkan, meski ditemukan rintangan dan tantangan yang dihadapi karena adanya materi kurikulum yang bernuangsa Jepang dimasukkan dalam setiap lembaga pendidikan.
Pelaksanaan pendidikan di Indonesia pada masa jepang berimplikasi pada berkembangnya berbagai jenis dan jenjang pendidikan yang sebenarnya terdapat tanda-tanda kemajuan lembaga pendidikan, terutama dari segi pendirian madrasah dan pondok pesantren di daerah terpencil, pelosok desa.
Kurikulum dan metodologi pendidikan di Indonesia pada masa Jepang terjadi perubahan kurikulum pendidikan, yakni terhapusnya kurikulum dualisme pengajaran, dimasukkannya kurikulum pengajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang, serta adanya bantuan dana untuk pembenahan kurikulum pendidikan. Adapun metode pendidikan yang diterapkan adalah metode klasikal dan metode pengajian. Metode klasikal, diselenggarakan di sekolah-sekolah, dan metode pengajian diterapkan di pondokpondok pesantren.
Komentar
Posting Komentar